Bring closer woven craft from women microenterprises
  • 04
  • 03
  • 01
  • 02
  • 05
  • 06
  • 07
  • 08
  • 09
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • klaten2-1
  • klaten2-2
  • klaten3
  • Nindya-yoga-bag-&-mat
  • Coin-Pouch
  • Fitria-bag
  • Nindya-yoga-bag-&-mat
  • shanti-bag

Place & Museum

Museum Tekstil Jakarta

This museum open and accessible for anybody wish to learn about Indonesia traditional handwoven textile
http://museumtekstiljakarta.com/en

 

Museum Tenun Ikat NTT

Ali Abubekar Pae – Pengelola Musem Tenun Ikat NTT

Kompas, 20 September 2011
(Samuel Oktora)

”Na na, kami wezu mbejaka zeze si kau…” (Lihatlah kain tenun itu. Kami sudah melepaskan semuanya dalam kain itu, kini terserah kepadamu untuk mengembangkannya). Bisikan itu seakan terngiang di telinga Ali Abubekar Pae pada suatu malam di Jakarta pada tahun 2000.

Bisikan itu seakan didengar lelaki warga Kelurahan Paupanda, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu saat ia melepas penat setelah berdagang seharian. Sejak peristiwa itu arah hidupnya berubah. Dia semakin menggeluti dunia tenun ikat tradisional, khususnya asal NTT.

”Entah mengapa, malam itu mata saya tergerak untuk melihat salah satu kain tenun yang disimpan di lemari, lalu saya membentangkannya. Begitu suara lembut itu menggema, saya sampai menangis sambil mencium kain tenun tersebut. Ternyata nenek moyang kami luar biasa. Mereka sudah meletakkan semua rahasia motif dan ragam hias dalam kain tenun buatan tangan. Tinggal kami yang hidup sekarang mengembangkannya,” kata Ali mengenang kejadian 10 tahun silam.

Tekad Ali menekuni kerajinan tenun ikat lalu membuatnya menjadi pengelola Museum Tenun Ikat di Ende, satu-satunya museum tenun ikat di NTT. Namun, jangan membayangkan Ali yang ditetapkan sebagai pengelola museum dengan Surat Keputusan Bupati Ende Nomor 26 Tahun 2009 tertanggal 28 Oktober 2009 itu mendapat fasilitas memadai.

Sejak mengelola museum yang diresmikan pada 5 Agustus 2004 itu, ia tak pernah menerima gaji dari Pemerintah Kabupaten Ende meski museum itu adalah aset pemerintah daerah. Guna menopang kehidupan keluarga, bapak satu anak ini mengandalkan usaha dari toko busana Lio di Pasar Mbongawani, Ende.

Ali pun harus mengelola museum tenun ikat itu seorang diri, mulai dari menyapu, mencabut rumput, menghias taman, sampai menambah dan memajang koleksi museum. Pemerintah Kabupaten Ende hanya mengurus pembayaran rekening air dan listrik museum setiap bulan. Untuk biaya operasional lain, seperti pemeliharaan museum, pemerintah daerah pernah membantu dua kali dengan total dana Rp 2 juta.

Pulang kampung

Meski dibesarkan di lingkungan keluarga yang terampil menenun (terutama ibunya, Siti Fatimah), awalnya Ali ”buta” seluk-beluk tenun ikat. Lulus S-1, Ali merantau ke Pulau Jawa. Ia bekerja sebagai asisten pengacara di Bondowoso, Jawa Timur, pada 1994. Ia juga pernah bekerja sebagai pemasar produk kebutuhan rumah tangga dan peralatan kesehatan di Jakarta.

Saat ia merantau, sang ayah, Abubekar Pae, meminta dia ikut menjualkan tenun ikat hasil kerajinan tangan Siti Fatimah dan kelompok tenunnya di kampung.

”Saya sempat berpikir, masak sarjana jualan kain di Jakarta? Namun, krisis moneter 1998 membuat saya mencoba menjajakan tenun itu. Ternyata peminat tenun ikat banyak, konsumennya sampai orang asing. Rasa bangga saya pada kain buatan kampung halaman juga tumbuh,” ceritanya.

Seiring bertambahnya permintaan, kiriman tenun dari kampung pun meningkat. Kain tenun itu dijualnya mulai dari Rp 90.000 sampai Rp 2 juta per lembar, tergantung kualitas, kerumitan tenunan, warna, dan panjang kain.

Pada 2003, Ali memutuskan pulang kampung setelah ayahnya meninggal pada tahun 2000 dan sang bunda sakit-sakitan. ”Saya sempat bingung. Mau kerja apa di Ende?” ujarnya.

Sambil mencari peluang kerja, Ali punya banyak waktu untuk belajar dan memperhatikan sang bunda dan kelompoknya menenun. Dari menjual, lalu tertarik, akhirnya Ali bisa menguasai ilmu menenun kain.Meski diakuinya, dalam tradisi di NTT, bagi lelaki ”tabu” menenun. Namun, Ali berani mendobrak paradigma itu.

Rumah adat telantar

Cikal bakal berdirinya Museum Tenun Ikat bermula saat Ali berkunjung ke Kantor Dinas Pariwisata Ende. ”Saat bertemu beliau (Pua Mochsen, kepala dinas waktu itu), saya bertanya mengapa rumah adat (tempat museum kini) itu telantar? Beliau mempersilakan saya mengajukan proposal,” katanya.

Ali pun mengajukan proposal pendirian museum tenun ikat. Pertimbangannya, bangunan itu adalah rumah adat (Lio) dan di Ende ada komunitas perajin tenun ikat.

”Kalau di Jawa ada museum batik, mengapa di Ende tak didirikan museum tenun ikat? Kami memilih Museum Tenun Ikat agar hasil kerajinan tenun ikat dari luar NTT pun bisa masuk museum,” katanya.

Dalam perjalanannya sebagai pengelola museum, tugas Ali tak ringan. Sebagian orang bahkan menganggap dia tak waras karena mau bekerja bakti tanpa gaji sepeser pun. Namun, Ali tetap berusaha menambah koleksi tenun museum sesuai dana pribadi yang bisa dikumpulkannya.

Kini, setidaknya 50 lembar tenun ikat menjadi koleksi museum. Kain itu berasal dari sejumlah daerah, seperti Ende, Kabupaten Sikka, Timor Tengah Selatan (TTS), Belu, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Barat, dan Sumba Timur.

Sebagai pengelola museum, dana pribadi yang telah dikeluarkan Ali untuk koleksi, penataan, penerangan, dan pemeliharaan kain tak kurang dari Rp 50 juta.

Ali berharap, dengan segala keterbatasan itu, nantinya Museum Tenun Ikat tak sekadar menjadi lembaga pengetahuan yang kaku dan menjemukan, tetapi juga menjadi museum yang patut dibanggakan.

”Saya ingin menjadikan museum ini punya koleksi kain lengkap dengan alat peraga menenun, berkesan informal, bisa menghibur, dan membuat pengunjung merasa asyik,” katanya.

Sampai kini Museum Tenun Ikat pun belum memiliki perpustakaan meski perpustakaan dapat menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung.

Ali juga berharap museum ini bisa dilengkapi peralatan teknologi visualisasi guna menampilkan semua koleksi kain agar tak perlu dipamerkan secara fisik. Bagaimanapun sebagian kain kuno itu rawan terkoyak.

”Museum ini sebenarnya juga perlu tenaga keamanan. Apalagi jika fasilitas museum kelak makin lengkap dan modern. Sebab, tahun lalu saja ada sejumlah kain yang dicuri orang,” katanya.

Masih banyak ”tugas” yang menunggu Ali. Selain menambah koleksi museum, dia juga memerlukan dana dan uluran tangan mereka yang mau membantunya meneliti dan mendokumentasikan motif serta makna setiap kain tenun ikat.

”Kalau bukan karena ’panggilan’, saya tidak kuat berada di sini. ’Panggilan’ itu membuat saya dapat melangkahkan kaki dengan ringan ke tempat ini. Saya hanya memiliki keyakinan, apa yang saya lakukan mungkin saat ini terlihat tak berguna, tetapi suatu saat akan terbukti bahwa ini suatu pekerjaan besar. Jika kelak posisi saya harus diganti orang lain, bagi saya tidak ada masalah,” kata Ali tegas.