Bring closer woven craft from women microenterprises
  • 04
  • 03
  • 01
  • 02
  • 05
  • 06
  • 07
  • 08
  • 09
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • klaten2-1
  • klaten2-2
  • klaten3
  • Nindya-yoga-bag-&-mat
  • Coin-Pouch
  • Fitria-bag
  • Nindya-yoga-bag-&-mat
  • shanti-bag

Tenun, Asa untuk Mamasa

Kompas,  28 Juli 2011
(Sin)

Dorsila (50) telah menenun lebih dari empat dasawarsa, sejak gadis belia hingga menjadi janda. Dengan terus menenun pula dia menyaksikan Mamasa berubah dari sebuah desa menjadi kabupaten yang disapa prahara.

Bunyi alat tenun bambu yang beradu selalu terdengar di Kelurahan Rante Sepang, Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, sepanjang hari. Hari terasa begitu panjang bagi para perempuan dusun ini yang sepuluh jam sehari bersetia merekatkan benang lungsin dan pakan.

Awal Juli musim kemarau kali ini pun terasa begitu menyiksa. Dorsila tak memiliki sawah dan kebun untuk digarap, hanya pada tenun yang tengah dikerjakannya dia berharap. Ibu tiga anak ini menenun sambu (sarung) barumbun yang coraknya berkumpul di tengah. ”Paling cepat dua minggu sudah selesai,” ucapnya tanpa menghiraukan kacamata yang melorot ke batang hidung.

Seperti telah digariskan, semua perempuan di Rante Sepang belajar menenun sejak belia. Mereka meneruskan apa yang dilakukan ibu dan neneknya. Beruntung bagi Dorsila karena saat ini para penenun berkumpul dalam kelompok. Dorsila, misalnya, bergabung dengan kelompok Kada Situru.
Dorsila diupah Rp 60.000 untuk setiap sambu yang ditenunnya. Setidaknya dia menghasilkan Rp 120.000 dalam sebulan. ”Tidak banyak, tetapi tidak kekurangan,” tuturnya.

Tenun adalah kehidupan para perempuan Rante Sepang. Rice (37) yang masih melajang memberdayakan dirinya lewat tenun. Dia satu-satunya perempuan seusianya yang menamatkan sekolah menengah atas. Hal ini membanggakan karena SMA terdekat berada di Kecamatan Sumarorong, sekitar 30 kilometer dari Balla.
Mimpi Rice berakhir karena keluarga tidak memiliki biaya untuk menyekolahkan putrinya ke perguruan tinggi. Menenun adalah opsi terakhir yang akhirnya dia nikmati. Selain bergabung dengan kelompok Kada Situru, Rice pun menerima pesanan tenun secara pribadi.

Rice belajar membuat pola-pola tenun yang baru. Semula dia hanya membuat sambu bembe, tenun dengan desain pola terfokus di sisi samping. Jenis ini umumnya diminati orang tua karena lebih sederhana. Kini dia juga mulai mengombinasikan banyak pola untuk sambu barumbun yang lebih modern. ”Keahlian menenun ternyata sangat berguna bagi kami di desa,” ujarnya.

Bertahan dalam tenun

Tenun adalah senjata bagi perempuan Mamasa untuk bertahan di daerah yang terisolasi. Mamasa, pemekaran dari Kabupaten Polewali Mamasa, baru disahkan pada 10 April 2002. Lanskap pegunungan yang dipadati pohon pinus di daerah ini seakan mengepung penduduknya dalam keterasingan yang stagnan.

Akses jalan menuju Mamasa dari Polewali Mandar masih berupa jalan tanah dengan kerikil dan batu-batu pegunungan yang siap longsor kapan pun. Rute sepanjang 90 kilometer bisa ditempuh dalam waktu lima jam. Belum lagi ketika hujan turun, mobil-mobil bisa terjebak di jalan berlumpur. Di sepanjang jalan pun sulit sekali ditemui stasiun pengisian bahan bakar umum, lampu jalan, apalagi sinyal telepon.

Namun, dari keterasingan itu, para perempuan tumbuh lebih kuat. Demmatande (66), pendiri Kada Situru, mengingat, di tahun 1970-an, para penenun Rante Sepang memilih berhenti menenun. ”Tenun waktu itu sekali cuci langsung luntur warnanya, penenun jadi kecewa,” katanya.

Demmatande berupaya mengangkat lagi tenun Rante Sepang. Karena itu, pada tahun 1977, dia mengumpulkan beberapa perempuan dan membuatkan sanggar tempat menenun di tepi jalan. Beruntunglah kala itu telah ditemukan benang katun yang tidak mudah luntur sehingga aktivitas penenunan pun kembali bergairah.
Dari semula hanya kumpulan penenun, kini Kada Situru telah memiliki ruang pamer yang terletak di pinggir jalan poros Mamasa. Para penenun dari kelompok ini pun sudah beberapa kali mengikuti pameran di Jakarta untuk mengenalkan tenun Mamasa.

Tenun setidaknya membuat banyak keluarga tidak kelaparan. Demmatande adalah salah satu buktinya. Ibunya pun seorang penenun. Dahulu, empat sarung tenun sama harganya dengan seekor kerbau, yakni hampir Rp 2,5 juta. ”Dengan uang itu, sembilan anak ayah dan ibu saya bisa hidup dan bersekolah,” katanya.

Bekerja untuk Mamasa

Orang-orang seperti Dorsila dan Demmatande menyaksikan Mamasa berubah, termasuk ketika daerah mereka diterpa prahara setelah pemberhentian Bupati Obednego Depparinding pada 24 Juni.

Mamasa yang tenang itu mendadak mencekam. Orang-orang bersenjata parang berdemonstrasi hingga aktivitas warga lumpuh. Isu-isu pembakaran berseliweran dan membuat warga tak tenang. Di tengah malam pun warga terus berjaga untuk mengantisipasi serangan-serangan yang tak terduga.

Bagi Demmatande, ini menjadi kemunduran bagi Mamasa. Daerah yang tidak menyimpan tradisi kekerasan ini justru rapuh. Belum lagi kasus korupsi APBD ini menyeret 24 mantan anggota DPRD Kabupaten Mamasa periode 2004-2009 yang artinya semuanya ikut andil dalam kasus ini.

Selama proses hukum berjalan, gesekan horizontal di masyarakat pun timbul. Tidak hanya pemerintahan yang lumpuh, warga pun saling curiga pada yang lainnya. ”Bagaimana bisa membangun ketika kasus ini terus berlarut-larut,” kata Demmatande.

Beruntunglah situasi itu tak bertahan lama. Komitmen warga untuk menjaga kedamaian di Mamasa bisa dikatakan adalah sebuah kerja nyata yang tampak dalam upaya pemulihan. Semua perempuan dan pria bahu-membahu dalam sebuah aksi damai. Para ibu berjaga hingga larut malam meminta sumbangan dari rumah warga.
Hasilnya tidak mengecewakan. Mereka mengumpulkan tomat, beras, lauk, dan mi instan untuk diolah bagi warga yang bergabung dalam aksi. Mereka yang tidak turun ke jalan bukannya tidak menyumbang apa pun demi Mamasa.
Ketika aksi berjalan, para penenun tetap bersetia dalam tugasnya. Mereka memastikan tiap benang merekat hingga menjadi kain yang siap diantarkan hingga pelosok negeri. Bagi Rice, dengan caranya sendiri, mereka bekerja secara nyata untuk Mamasa. ”Saat ini semua pun harus bekerja dan melupakan yang lama,” ucap Rice. (sin)

Comments are closed.